I Found The Clue
Pulang sekolah biasanya menjadi hal yang
paling ditunggu oleh anak-anak yang bersekolah, tapi setiap pulang sekolah aku
harus melakukan berbagai hal yang membosankan bahkan terkadang menjijikan, tak
perlu kujelaskan hal apa yang menjijikan itu… Dan sore ini pun sama, aku sedang
bersama Jose di apartemennya yang cukup mewah. Aku harus secepatnya membongkar
kasus sialan ini!
Dan sekarang aku malah sedang terjebak
bersama Jose di sebuah lorong sekolah entah untuk apa. Jose bilang ia ingin
bertemu temannya dan ingin memberikan sebuah barang yang kurasa adalah narkoba.
Entah sampai kapan aku menunggu disini bersamanya dan juniornya yang sejak tadi
semangat untuk bangun, dan tatapan mesum Jose padaku yang membuatku ingin
membunuhnya. Aku tersenyum manis padanya –yang tentu adalah senyuman palsu- dan
sedikit mengecup pipinya yang langsung dibalas ciuman di bibirku, iieeewww…
Setidaknya aku bisa mendapatkan ciuman dari pria yang lebih baik, bukan pria
menjijikan dengan penampilan bak preman yang siap memalak siapapun yang lewat
di hadapannya.
20 menit menunggu, akhirnya si teman
sialan itu datang dan Jose langsung memberikan sebungkus kecil shabu-shabu dan
terjadilah transaksi dan akulah yang menjadi saksinya. Shit!!! Jika sudah
kutemukan dimana ayahmu, aku janji akan langsung menghajarmu dan membuatmu
menyesal! Tak menyia-nyiakan kesempatan, kukeluarkan ponselku dan langsung
merekam transaksi itu dengan berpura-pura chatting entah dengan siapa. Dan saat
mereka selesai aku langsung memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana
hot pants-ku dan sekali lagi memberikan senyuman palsu pada Jose yang
membalasnya dengan senyuman cabul. Sialan!
Setelah transaksi tersebut selesai aku langsung pergi bersama Jose ke apartemennya. Well, ini adalah pertama kalinya aku datang ke apartemennya, mengingat kami baru seminggu berpacaran. Dan aku berani saja mempertaruhkan apapun mala mini asalkan mendapat hal bagus untuk memepercepat penyergapan.
Setelah transaksi tersebut selesai aku langsung pergi bersama Jose ke apartemennya. Well, ini adalah pertama kalinya aku datang ke apartemennya, mengingat kami baru seminggu berpacaran. Dan aku berani saja mempertaruhkan apapun mala mini asalkan mendapat hal bagus untuk memepercepat penyergapan.
“Hai, Cel. Mau
segelas red wine? Atau cola?” tanya jose padaku sambil meletakkan ponselnya di
meja saat sampai di apartemennya dan duduk di sofa ruang tamunya yang luas ini.
“Hmmm, air putih
saja.” Jawabku dengan senyum manis yang menjijikan. Huh! Kenapa aku selalu
merasa menjijikan saat bersama Jose?
“Kau yakin?”
“Tentu.”
Lantas Jose berjalan ke dapurnya untuk
mengambil air putih dan minuman untuknya juga. Sedangkan aku cepat-cepat
menyambar ponselnya yang tergeletak di meja. Dengan cepat aku membuka cover
ponselnya dan menyelipkan chip di bawah kartu memorinya agar aku bisa
menyadapnya. Setelah itu aku menutup kembali cover ponselnya.
Aku
mendengar langkah kaki Jose yang mendekat dan buru-buru meletakkan ponselnya di
tempat semula, dan tak lama kemudian Jose datang dengan segelas besar air putih
dan sebotol minuman ber-alkohol tinggi. Sepertinya aku punya kesempatan bagus
untuk membuatnya mabuk berat dan membongkar kasusnya, karna aku tidak mau lebih
lama lagi menjadi gadis menjijikan meski sebenarnya kami tak saling berhubungan
badan, bahkan berciuman pun tidak. Yang kulakukan dengannya selama ini hanya
menyelidikinya dan meladeninya berbuat hal-hal gila yang melanggar hukum.
Parahnya, beberapa kali Simon memergoki kami saat sedang berbuat onar meski
semua orang tahu bahwa yang ber-ulah adalah Jose, bukan aku. Tapi aku cukup
kagum pada Simon yang sama sekali tak membocorkan hal itu pada siapapun. Dia
malah lebih terkesan melindungiku saat aku hampir saja dapat masalah, dia
membelaku dan bahkan rela melakukan hukuman yang harusnya untukku. Entah hanya
perasaanku saja atau ini memang kenyataan aku tak tahu pasti. Yang jelas aku
merasa Simon memiliki perhatian khusus terhadapku. Jose yang mengajakku
melakukannya dan yang seharusnya bertanggung jawab malah menyangkal dan
menimpakan kesalahan padaku, lalu ia meninggalkanku. Sering aku berfikir untuk
membunuhnya dan penyelidikan dianggap selesai. Namun aku belum mendapatkan
bukti apapun dalam penyelidikan ini, entah disembunyikan dimana bukti transaksi
sialan itu.
“Jika kau hanya
mau air putih, tak apa-apa. Tapi aku mau mabuk malam ini.” Canda Jose sambil
duduk di kursi dan memberikan air putih padaku.
“Mabuklah
semampumu, aku akan menemanimu.” Balasku dengan mesra, lalu meminum setengah
gelas air tersebut. Jose juga mulai minum alkoholnya.
“Oh iya, aku
minta maaf soal yang di ruang judo tadi. Aggy memaksaku.” Huh, tanpa diberi
tahupun aku sudah tahu mengapa hal itu terjadi, dasar bajingan!
“Tak apa. Aku
tak akan marah padamu. Tak akan pernah” haha, kebohongan yang bodoh. Seperti
bersembunyi di balik telunjuk. Namun yang lebih bodoh adalah Jose percaya
dengan apa yang kukatakan.
Setelah minum cukup banyak, akhirnya Jose
teler juga meski beberapa kali tangannya yang sialan itu merabaku, dan tentu
berhasil kutepis jauh-jauh! Takkan kubiarkan laki-laki sepertinya menyentuhku!
Di tengah kondisi Jose yang benar-benar
tertidur sekarang, aku mulai menjelajahi isi apartemennya dan mendapat beberapa
hal yang bisa jadi bukti kuat kalau ia dan ayahnya telah mengedarkan narkoba
bahkan telah sampai ke beberapa negara besar, sialnya… Musuh lamaku adalah
tangan kananya, yaitu Jonnathan William Alexander yang sungguh menyebalkan,
ditambah Jonnathan adalah pamannya Jose, sialan! Kenapa semua musuhku berkumpul
jadi satu? Oke, tak perlu lagi berlama-lama, aku langsung memotret bukti-bukti
itu yang lalu langsung kukirim ke markas lewat e-mail, karna jika aku
mengambilnya, Jose akan curiga padaku karna ada barang yang hilang saat aku
berada di tempatnya. Dan barang-barang yang kupotret adalah kwitansi transaksi
narkoba sebesar $1.000.000, pil ekstasi seberat 2 kg, opium seberat 1,5 kg, dan
ganja seberat 3 kg yang semuanya dimassukan ke dalam kardus besar yang sudah
diselotip rapih dan siap dikirim. Sialnya, aku sudah membongkar kardusnya
hingga aku harus merapikan kembali dan merekatkan tutupnya dengan selotip
seperti semula.
Setelah itu aku kembali ke ruang tamu
dimana Jose terlelap. Sejenak kupandangi jam dinding yang menunjukkan jam 1
malam, sudah lumayan larut dan aku tak tahu harus kapan kembali ke rumah. Well, sebenarnya bukan rumahku, tapi
adalah rumah milik Mr. Samuel yang dipinjamkan untukku selama penyamaran. Jika
teman-temanku ke rumah dan bertanya dimana orang tuaku, aku hanya menjawab
mereka sedang liburan dan kedua kalinya aku akan bilang bahwa orang tuaku
sedang terjebak di bandara karna pesawat yang akan mereka tumpangi sedang
delay, dan berbagai macam alasan lagi.
Tok tok tok…
Sialan! Siapa yang berkunjung malam-malam
begini dan membuatku terkejut? Siapa pula yang memiliki urusan dengan Jose?
Bagaimana jika yang datang Jonnathan? Gawat! Penyamaranku akan terbongkar karna
Jonnathan mengenaliku. Jelas saja ia mengenaliku! Aku-lah yang menjebloskannya
ke penjara meski beberapa bulan lalu ia berhasil kabur dari penjara…
Perlahan kuhampiri pintu yang lagi-lagi diketuk oleh entah siapa. Tak hentinya hatiku berdoa semoga yang datang bukanlah orang yang akan membahayakanku. Setelah berada tepat di depan pintu, kuputar kenop pintu dan perlahan membukanya…
Perlahan kuhampiri pintu yang lagi-lagi diketuk oleh entah siapa. Tak hentinya hatiku berdoa semoga yang datang bukanlah orang yang akan membahayakanku. Setelah berada tepat di depan pintu, kuputar kenop pintu dan perlahan membukanya…
“Cecilia?” crap!
Dasar pria menyebalkan! Malam malam begini mengejutkanku dan datang ke
rumah orang lain tanpa memberi tahu si pemilik rumah, dan… Eh, dia tidak salah,
karna dia juga tak tahu jika aku ada di sini dan mungkin saja ia ada urusan
penting.
“Simon? Ada
apa?” tanyaku bingung.
“Apa Jose ada?”
ia bertanya kembali.
“Ya, dia sedang
teler di dalam.” Jawabku datar.
“Aku hanya ingin
mengembalikan seragam Judo yang kemarin kupinjam dan juga ingin memberikan
formulir turnamen Judo yang baru sempat kuberikan sekarang karna baru saja
diantar oleh Jaden.”
“Oh, okay.
Berikan saja padaku dan akan kuberikan pada Jose jika ia sudah bangun tidur.”
“Apa itu artinya
kau akan menginap di sini?”
“Itu bukan
urusanmu!”
“Oh, maaf. Hanya
bertanya.”
“Ya sudah, jika
sudah tak ada keperluan lagi, pergilah. Ini sudah larut malam.”
“Tenang saja,
Cel. Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan untuk pulang kerumah. Aku tahu
apa yang harus kulakukan tanpa kau beritahu.”
“Bagus jika
begitu. Terima kasih.” Kataku yang lantas menutup pintu dan membiarka Simon di
luar. Aku memang tak sopan, tapi aku hanya menutupi perasaan yang sejak tadi
mengusikku. Perasaan yang muncul saat melihat wajah Simon yang muncul di depan
pintu dan perasaan yang selama ini belum pernah kurasakan selain dengan ayahku,
perasaan yang akupun tak tahu apa artinya, perasaan yang aku sangat malu unttuk
mengakuinya. Perasaan seperti debaran aneh yang muncul tiba-tiba dan rasa geli
di perut seperti ada kupu-kupu yang terbang didalamnya. Sejak kapan aku
merasakannya? Akupun tak tahu, terjadi begitu saja…
Nah, itu dia lanjutan ceritanya. next, akan saya post lagi, oke?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar