Kamis, 05 Oktober 2017

Cerbung Remaja "CIA Girl Pt. 2"

Okay, ini lanjutan dari cerita yang kemarin ya, semoga kalian suka.


I Found The Clue
      Pulang sekolah biasanya menjadi hal yang paling ditunggu oleh anak-anak yang bersekolah, tapi setiap pulang sekolah aku harus melakukan berbagai hal yang membosankan bahkan terkadang menjijikan, tak perlu kujelaskan hal apa yang menjijikan itu… Dan sore ini pun sama, aku sedang bersama Jose di apartemennya yang cukup mewah. Aku harus secepatnya membongkar kasus sialan ini!
     Dan sekarang aku malah sedang terjebak bersama Jose di sebuah lorong sekolah entah untuk apa. Jose bilang ia ingin bertemu temannya dan ingin memberikan sebuah barang yang kurasa adalah narkoba. Entah sampai kapan aku menunggu disini bersamanya dan juniornya yang sejak tadi semangat untuk bangun, dan tatapan mesum Jose padaku yang membuatku ingin membunuhnya. Aku tersenyum manis padanya –yang tentu adalah senyuman palsu- dan sedikit mengecup pipinya yang langsung dibalas ciuman di bibirku, iieeewww… Setidaknya aku bisa mendapatkan ciuman dari pria yang lebih baik, bukan pria menjijikan dengan penampilan bak preman yang siap memalak siapapun yang lewat di hadapannya.
     20 menit menunggu, akhirnya si teman sialan itu datang dan Jose langsung memberikan sebungkus kecil shabu-shabu dan terjadilah transaksi dan akulah yang menjadi saksinya. Shit!!! Jika sudah kutemukan dimana ayahmu, aku janji akan langsung menghajarmu dan membuatmu menyesal! Tak menyia-nyiakan kesempatan, kukeluarkan ponselku dan langsung merekam transaksi itu dengan berpura-pura chatting entah dengan siapa. Dan saat mereka selesai aku langsung memasukkan kembali ponselku ke dalam saku celana hot pants-ku dan sekali lagi memberikan senyuman palsu pada Jose yang membalasnya dengan senyuman cabul. Sialan!
Setelah transaksi tersebut selesai aku langsung pergi bersama Jose ke apartemennya. Well, ini adalah pertama kalinya  aku datang ke apartemennya, mengingat kami baru seminggu berpacaran. Dan aku berani saja mempertaruhkan apapun mala mini asalkan mendapat hal bagus untuk memepercepat penyergapan.
“Hai, Cel. Mau segelas red wine? Atau cola?” tanya jose padaku sambil meletakkan ponselnya di meja saat sampai di apartemennya dan duduk di sofa ruang tamunya yang luas ini.
“Hmmm, air putih saja.” Jawabku dengan senyum manis yang menjijikan. Huh! Kenapa aku selalu merasa menjijikan saat bersama Jose?
“Kau yakin?”
“Tentu.”
      Lantas Jose berjalan ke dapurnya untuk mengambil air putih dan minuman untuknya juga. Sedangkan aku cepat-cepat menyambar ponselnya yang tergeletak di meja. Dengan cepat aku membuka cover ponselnya dan menyelipkan chip di bawah kartu memorinya agar aku bisa menyadapnya. Setelah itu aku menutup kembali cover ponselnya.
      Aku mendengar langkah kaki Jose yang mendekat dan buru-buru meletakkan ponselnya di tempat semula, dan tak lama kemudian Jose datang dengan segelas besar air putih dan sebotol minuman ber-alkohol tinggi. Sepertinya aku punya kesempatan bagus untuk membuatnya mabuk berat dan membongkar kasusnya, karna aku tidak mau lebih lama lagi menjadi gadis menjijikan meski sebenarnya kami tak saling berhubungan badan, bahkan berciuman pun tidak. Yang kulakukan dengannya selama ini hanya menyelidikinya dan meladeninya berbuat hal-hal gila yang melanggar hukum. Parahnya, beberapa kali Simon memergoki kami saat sedang berbuat onar meski semua orang tahu bahwa yang ber-ulah adalah Jose, bukan aku. Tapi aku cukup kagum pada Simon yang sama sekali tak membocorkan hal itu pada siapapun. Dia malah lebih terkesan melindungiku saat aku hampir saja dapat masalah, dia membelaku dan bahkan rela melakukan hukuman yang harusnya untukku. Entah hanya perasaanku saja atau ini memang kenyataan aku tak tahu pasti. Yang jelas aku merasa Simon memiliki perhatian khusus terhadapku. Jose yang mengajakku melakukannya dan yang seharusnya bertanggung jawab malah menyangkal dan menimpakan kesalahan padaku, lalu ia meninggalkanku. Sering aku berfikir untuk membunuhnya dan penyelidikan dianggap selesai. Namun aku belum mendapatkan bukti apapun dalam penyelidikan ini, entah disembunyikan dimana bukti transaksi sialan itu.
“Jika kau hanya mau air putih, tak apa-apa. Tapi aku mau mabuk malam ini.” Canda Jose sambil duduk di kursi dan memberikan air putih padaku.
“Mabuklah semampumu, aku akan menemanimu.” Balasku dengan mesra, lalu meminum setengah gelas air tersebut. Jose juga mulai minum alkoholnya.
“Oh iya, aku minta maaf soal yang di ruang judo tadi. Aggy memaksaku.” Huh, tanpa diberi tahupun aku sudah tahu mengapa hal itu terjadi, dasar bajingan!
“Tak apa. Aku tak akan marah padamu. Tak akan pernah” haha, kebohongan yang bodoh. Seperti bersembunyi di balik telunjuk. Namun yang lebih bodoh adalah Jose percaya dengan apa yang kukatakan.
      Setelah minum cukup banyak, akhirnya Jose teler juga meski beberapa kali tangannya yang sialan itu merabaku, dan tentu berhasil kutepis jauh-jauh! Takkan kubiarkan laki-laki sepertinya menyentuhku!
      Di tengah kondisi Jose yang benar-benar tertidur sekarang, aku mulai menjelajahi isi apartemennya dan mendapat beberapa hal yang bisa jadi bukti kuat kalau ia dan ayahnya telah mengedarkan narkoba bahkan telah sampai ke beberapa negara besar, sialnya… Musuh lamaku adalah tangan kananya, yaitu Jonnathan William Alexander yang sungguh menyebalkan, ditambah Jonnathan adalah pamannya Jose, sialan! Kenapa semua musuhku berkumpul jadi satu? Oke, tak perlu lagi berlama-lama, aku langsung memotret bukti-bukti itu yang lalu langsung kukirim ke markas lewat e-mail, karna jika aku mengambilnya, Jose akan curiga padaku karna ada barang yang hilang saat aku berada di tempatnya. Dan barang-barang yang kupotret adalah kwitansi transaksi narkoba sebesar $1.000.000, pil ekstasi seberat 2 kg, opium seberat 1,5 kg, dan ganja seberat 3 kg yang semuanya dimassukan ke dalam kardus besar yang sudah diselotip rapih dan siap dikirim. Sialnya, aku sudah membongkar kardusnya hingga aku harus merapikan kembali dan merekatkan tutupnya dengan selotip seperti semula.
      Setelah itu aku kembali ke ruang tamu dimana Jose terlelap. Sejenak kupandangi jam dinding yang menunjukkan jam 1 malam, sudah lumayan larut dan aku tak tahu harus kapan kembali ke rumah. Well, sebenarnya bukan rumahku, tapi adalah rumah milik Mr. Samuel yang dipinjamkan untukku selama penyamaran. Jika teman-temanku ke rumah dan bertanya dimana orang tuaku, aku hanya menjawab mereka sedang liburan dan kedua kalinya aku akan bilang bahwa orang tuaku sedang terjebak di bandara karna pesawat yang akan mereka tumpangi sedang delay, dan berbagai macam alasan lagi.
Tok tok tok…
      Sialan! Siapa yang berkunjung malam-malam begini dan membuatku terkejut? Siapa pula yang memiliki urusan dengan Jose? Bagaimana jika yang datang Jonnathan? Gawat! Penyamaranku akan terbongkar karna Jonnathan mengenaliku. Jelas saja ia mengenaliku! Aku-lah yang menjebloskannya ke penjara meski beberapa bulan lalu ia berhasil kabur dari penjara…
Perlahan kuhampiri pintu yang lagi-lagi diketuk oleh entah siapa. Tak hentinya hatiku berdoa semoga yang datang bukanlah orang yang akan membahayakanku. Setelah berada tepat di depan pintu, kuputar kenop pintu dan perlahan membukanya…
“Cecilia?” crap! Dasar pria menyebalkan! Malam malam begini mengejutkanku dan datang ke rumah orang lain tanpa memberi tahu si pemilik rumah, dan… Eh, dia tidak salah, karna dia juga tak tahu jika aku ada di sini dan mungkin saja ia ada urusan penting.
“Simon? Ada apa?” tanyaku bingung.
“Apa Jose ada?” ia bertanya kembali.
“Ya, dia sedang teler di dalam.” Jawabku datar.
“Aku hanya ingin mengembalikan seragam Judo yang kemarin kupinjam dan juga ingin memberikan formulir turnamen Judo yang baru sempat kuberikan sekarang karna baru saja diantar oleh Jaden.”
“Oh, okay. Berikan saja padaku dan akan kuberikan pada Jose jika ia sudah bangun tidur.”
“Apa itu artinya kau akan menginap di sini?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Oh, maaf. Hanya bertanya.”
“Ya sudah, jika sudah tak ada keperluan lagi, pergilah. Ini sudah larut malam.”
“Tenang saja, Cel. Aku bukan anak kecil yang harus diingatkan untuk pulang kerumah. Aku tahu apa yang harus kulakukan tanpa kau beritahu.”
“Bagus jika begitu. Terima kasih.” Kataku yang lantas menutup pintu dan membiarka Simon di luar. Aku memang tak sopan, tapi aku hanya menutupi perasaan yang sejak tadi mengusikku. Perasaan yang muncul saat melihat wajah Simon yang muncul di depan pintu dan perasaan yang selama ini belum pernah kurasakan selain dengan ayahku, perasaan yang akupun tak tahu apa artinya, perasaan yang aku sangat malu unttuk mengakuinya. Perasaan seperti debaran aneh yang muncul tiba-tiba dan rasa geli di perut seperti ada kupu-kupu yang terbang didalamnya. Sejak kapan aku merasakannya? Akupun tak tahu, terjadi begitu saja…



Nah, itu dia lanjutan ceritanya. next, akan saya post lagi, oke?

Tidak ada komentar:

Cerbung Remaja "CIA Girl Pt. 2"

Okay, ini lanjutan dari cerita yang kemarin ya, semoga kalian suka. I Found The Clue       Pulang sekolah biasanya menjadi hal ya...